Kamis, 12 Januari 2012

Analisis dan Kritik Cerpen "Ibu" karya A. A Navis


BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang Masalah
Cerita pendek (cerpen) sebagai salah satu jenis karya sastra ternyata dapat memberikan manfaat kepada pembacanya. Di antaranya dapat memberikan pengalaman pengganti, kenikmatan, mengembangkan imajinasi, mengembangkan pengertian tentang perilaku manusia, dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal. Pengalaman yang universal itu tentunya sangat berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia serta kemanusiaan. Ia bisa berupa masalah perkawinan, percintaan, tradisi, agama, persahabatan, sosial, politik, pendidikan, dan sebagainya.
Tidak hanya itu, kiranya cerpen dengan segala permasalahannya yang universal itu harus dilakukan penilaian (kritik) terhadap karya sastra itu. Salah satu tujuan kritik sastra adalah untuk membantu pembaca memahami karya sastra. Sedangkan tujuan utama kritik sastra adalah untuk memberikan penilaian objektif tentang baik atau buruknya suatu karya sastra.
Dalam makalah ini kami akan melakukan kritik sastra terhadap cerpen “ibu” karya A.A Navis. Dipilihnya cerpen “Ibu”  bukan tanpa pertimbangan atau alasan sebab cerpen ini memiliki keistimewaan (bagi kami). Keistimewaannya yaitu terletak pada teknik penceritaan yang menarik, mendidik, mengharukan dan juga banyak sekali mengandung nilai-nilai pendidikan, nilai-nilai kepribadian, nilai-nilai tanggung jawab dan nilai-nilai religi.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, kami mencoba mengidentifikasi masalah. Identifikasi masalahnya kami dasarkan pada tiga aspek dalam kritik sastra, yaitu:
1.      Analisis terhadap karya sastra;
2.      Interpretasi/penafsiran terhadap karya sastra; dan
3.      Evaluasi/penilaian terhadap karya sastra.


BAB II
Kajian Teori
2.1  Kritik Sastra
Kritik adalah pengamatan yang teliti, perbandingan yang tepat serta pertimbangan yang adil terhadap baik buruknya kualitas, nilai keberadaan sesuatu. Sedangkan kritik sastra ialah pengamatan yang teliti, perbandingan yang tepat serta pertimbangan yang adil terhadap karya sastra (Tarigan 1993 : 188). Jadi secara sederhana, kritik sastra dapat diartikan sebagai penilaian terhadap mutu karya sastra berdasarkan kriteria dan pendekatan tertentu. Untuk dapat menetukan apakah suatu karya sastra itu mutunya baik atau buruk, seorang penilai tentu harus membaca karya itu terlebih dahulu.
Tiga aspek dalam kritik sastra
1.      Analisis terhadap karya sastra, penilaian dilakukan untuk memahami sastra.
2.      Interpretasi/penafsiran terhadap karya sastra dengan memperhatikan aspek-aspek yang membangun karya sastra.
3.      Evaluasi/penilaian terhadap karya sastra.
3.2. Pendekatan Objektif
Pendekatan objektif adalah pendekatan yang mendasarkan pada suatu karya sastra secara keseluruhan, dan memandang karya sastra adalah sesuatu yang berdiri sendiri yang dapat dilepaskan dari siapa pengarang dan sosial budaya jamannya. Pendekatan yang dilihat dari eksistensi sastra itu sendiri berdasarkan konvensi sastra yang berlaku. Konvensi tersebut misalnya, unsur intrinsik sastra.
Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsure-unsur yang secara factual dapat dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik dalam karya sastra, khususnya cerpen, meliputi tokoh/ penokohan, alur (plot), gaya bahasa, sudut pandang, latar (setting), tema, dan amanat.
Berikut penjelasan mengenai unsur intrinsik.
1. Tokoh dan Karakter Tokoh
Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita, sedangkan watak, perwatakan, atau karakter menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh yang menggambarkan kualitas pribadi seorang tokoh. Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. Secara umum kita mengenal tokoh protagonis dan antagonis.
2. Latar (Setting)
Latar dalam sebuah cerita menunjuk pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwaperistiwa yang diceritakan. Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi. Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu sebagai berikut.
3. Alur (Plot)
Alur adalah urutan peristiwa yang berdasarkan hukum sebab akibat. Alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, akan tetapi menjelaskan mengapa hal ini terjadi. Kehadiran alur dapat membuat cerita berkesinambungan. Oleh karena itu, alur biasa disebut juga susunan cerita atau jalan cerita.
Ada dua cara yang dapat digunakan dalam menyusun bagianbagian cerita, yakni sebagai berikut. Pengarang menyusun peristiwa-peristiwa secara berurutan mulai dari perkenalan sampai penyelesaian. Susunan yang demikian disebut alur maju. Pengarang menyusun peristiwa secara tidak berurutan. Pengarang dapat memulainya dari peristiwa terakhir atau peristiwa yang ada di tengah, kemudian menengok kembali pada peristiwaperistiwa yang mendahuluinya. Susunan yang demikian disebut alur sorot balik (flashback). Selain itu, ada juga istilah alur erat dan alur longgar. Alur erat adalah jalinan peristiwa yang sangat padu sehingga apabila salah satu peristiwa ditiadakan maka dapat mengganggu keutuhan cerita. Adapun alur longgar adalah jalinan peristiwa yang tidak begitu padu sehingga apabila salah satu peristiwa ditiadakan tidak akan mengganggu jalan cerita.
4. Sudut Pandang (Point of View)
Sudut pandang adalah visi pengarang dalam memandang suatu peristiwa dalam cerita. Untuk mengetahui sudut pandang, kita dapat mengajukan pertanyaan siapakah yang menceritakan kisah tersebut? Ada beberapa macam sudut pandang, di antaranya sudut pandang orang pertama (gaya bercerita dengan sudut pandang “aku”), sudut pandang peninjau (orang ketiga), dan sudut pandang campuran.
5. Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah cara khas penyusunan dan penyampaian dalam bentuk tulisan dan lisan. Ruang lingkup dalam tulisan meliputi penggunaan kalimat, pemilihan diksi, penggunaan majas,dan penghematan kata. Jadi, gaya merupakan seni pengungkapan seorang pengarang terhadap karyanya.
6. Tema
Tema adalah persoalan pokok sebuah cerita. Tema disebut juga ide cerita. Tema dapat berwujud pengamatan pengarang terhadap berbagai peristiwa dalam kehidupan ini. Kita dapat memahami tema sebuah cerita jika sudah membaca cerita tersebut secara keseluruhan.
7. Amanat
Melalui amanat, pengarang dapat menyampaikan sesuatu, baik hal yang bersifat positif maupun negatif. Dengan kata lain, amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang berupa pemecahan atau jalan keluar terhadap persoalan yang ada dalam cerita. Adapun unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangun cerita sebuah karya.






BAB III
AKTIFITAS KRITIK SASTRA

3.1   Tahap Analisis
Tahap analisis adalah tahap menguraikan unsur-unsur yang membangun karya sastra dan menarik hubungan antar unsur-unsur tersebut.
Sinopsis Cerpen Ibu Karangan AA.Navis
Cerpen ini berkisah tentang perjalanan hidup seorang ibu dan anak-anaknya dengan pengorbanan, kegigihan, kesabaran. Seorang Ibu yang membesarkan dan mendidik anak-anaknya hingga dewasa dan berumah tangga dan anak- anak yang bekerja keras untuk membiayai perawatan ibunya yang sakit. Banyak cobaaan yang harus dihadapi keluarga ini terutama masalah kesulitan ekonomi. Sinopsisnya seperti berikut ini.
Ibu sangat menyayangi kami, anak-anaknya. Selamanya berat hati ibu jika berpisah dengan kami atau salah seorang dari kami. Selamanya ibu berusaha agar kami tetap hidup sekumpul. Juga selamanya ibu menjaga api kegembiraan dalam tungku hidup kami. Hingga kami selamanya merasakan bahwa  surga adalah dikaki ibu.
Akan tetapi, tak lama kemudian, kedua belah kaki ibu dengan tiba-tiba saja tak dapat digerakkannya lagi. Ibu harus tinggal di tempat tidur. Dan kalau ibu mau keluar, kami papah bersama-sama. Rupanya akhir hidupnya dimulai dengan sakit seperti itu. Kami semuanya jadi sedih, jadi cemas..
Ibu memang sudah merasai sekali dalam hidupnya mestinya anak ibu empat belas. Tapi dua kali keguguran. Dan dua kali pula kehilangan anaknya ketika masih kecil. jadi, kami bersaudara sepuluh orang sekarang. Akulah yang tertua..
Sakit ibu berlarut-larut. Ketika ibu mulai sakit, aku panggil  dokter. Dokter pada masa itu tak mau dipanggil ke rumah. Ia hanya menanyakan apa penyakit ibu, lalu diberinya beberapa macam obat yang diracik sendiri. Sementara itu, di rumah ibu berkeras hati untuk berlatih berjalan. Kami berdua memapahnya. Ibu mengangkat kakinya selangkah demi selangkah berkeliling kamar. Tapi yang sebenarnya kaki ibu tidak mampu digerakkannya lagi. Kadang-kadang ibu minta ditidurkan diruang tengah, agar ibu dapat melihat isi dari sebuah rumah tangga. Kadang-kadang ibu minta ditidurkan di langkan dapur,sambil bersandar ke bantal yang ditinggikan,
Akhirnya, masa krisis ibu sampai di puncaknya. Semua orang sudah kehilangan akal. Sanak keluarga telah ramai berdatangan dari berbagai kota dan kampong. Ada yang mengaji terus menerus dengan berganti-ganti, ada yang membisikan kalimat syahadat ke telinga ibu. Semua adikku telah merah dan sembab matanya, terutama yang perempuan. Beberapa kerabat yang terdekat pun demikian. Kesedihan mereka itu mengobati hatiku yang sedih. Tapi aku sama sekali tidak menunjukan kesedihanku dengan sepatutnya. Karena aku telah rela kalau ibu meninggalkan kami dalam tempo yang singkat.
Aku tak rela sungguh-sungguh di tinggalkan ibu. Keliaran perasaan dan pikiranku terhadap takdir,  kucoba menjinakkannya dengan melumpuhkan otak dan hatiku dengan mengalihkan perhatianku ke soal lain.
Dan ketika raungan rapat tangis diatas rumah telah berderai demikian kerasnya, aku tahu sudah bahwa waktu ibu telah sampai. Aku tak mengucapkan apa-apa, karena otak dan hatiku telah kosong. Aku tak berlari mendapati ibu yang tak bernyawa lagi itu. Aku hanya pergi menjauhkan diriku kemana saja kakiku mau membawanya agar aku bisa terhindar dari segala yang menekan hatiku oleh kedukaan sebab kehilangan ibu. Kalau kedukaan itu menyelinap juga kedalam hatiku, kucoba membujuknya dengan mengatakan,”ibu lebih baik lekas meninggal, daripada menderita lebih lama.”
Tak setitik pun air mataku kubiarkan keluar. Malah setiap kenalan yang kujumpai dijalan, aku masih bisa tersenyum manis padanya. Tapi ketika kubur itu sudah mulai ditimbuni orang, air mataku tak tertahankan lagi. Dadaku yang sesak menahan tangis terasa mulai lapang. Tapi hatiku masih hampa dan otakku kosong. Dan ketika itu, di pusara itu, aku tidak tahu apa yang hendak kulakukan diatas kubur ibu. Mungkin ibu akan berguling-guling di atasnya, sebagai protes kepada takdir bahwa ibuku terlalu lekas nyawanya diambil. Tapi aku hanya sebentar bisa berdiri merenungi kubur ibu, lalu aku barkata dalam hatiku,”Selamat berbahagialah, Ibu.” Lalu aku pergi cepat-cepat tanpa berpaling. Melarikan dukaku.
3.1.1 Analisis Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur dalam yang membentuk penciptaan karya sastra. Unsur ini berupa tema, amanat, latar, alur, penokohan, titik pengisahan, dan gaya bahasa. Ketujuh unsur yang terdapat dalam cerpen Ibu”  karya A.A Navis tersebut sebagai berikut:
1)      Latar
Dalam suatu cerita latar dibentuk melalui segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya suatu peristiwa. Latar ini ada tiga macam, yaitu: latar tempat; latar waktu; dan latar sosial.
(1)   Latar Tempat
Latar tempat yang ada dalam cerpen ini adalah.
a)      Rumah
 “yang paling sering, apabila ibu sendirian di rumah.” ( Paragraf ke- 7 baris ke- 4)

b)     Stasiun
 “...ibu bangun pagi-pagi dan pergi ke stasiun untuk menyelundupkan beras ke kota lain.” (Paragraf ke-2 baris ke- 1-2)

c)      Rumah sakit
empat bulan ibu dirawat di rumah sakit,...”( Paragraf ke-74 baris ke- 1)
d)     kamar
 “ibu harus tinggal di tempat tidur(Paragraf ke-4 baris ke-3-4)
e)      Ruang makan
“kami papah ibu ke ruangan makan...”
f)       Kuburan
“tetapi aku hanya bisa sebentar merenungi kubur ibu, lalu aku....” (paragraf ke- 83 baris ke- 10)

(2)   Latar Waktu
Latar waktu yang ada dalam cerpen ini adalah.
a)      Pagi hari
“...ibu bangun pagi-pagi dan pergi ke stasiun untuk menyelundupkan beras ke kota lain.”
b)     Malam hari
Pargraf ke-1 baris ke-5
“...ibu menumpang dengan kereta api malam.”
c)      Siang hari
Pargraf ke-61 baris ke-2
“dan pada siang harinya aku melakukan bermacam-macam pekerjaan...”

(3)   Latar Sosial
Di dalam latar ini umumnya menggambarkan keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, kebiasaannya, dan cara hidup.
Contoh penggalan cerpen yang menunjukan  latar sosial:
“…pada malamnya sesudah ibu dikuburkan, ketika sanak keluarga dan teman-teman masih beramai-ramai menghibur hati kami yang duka…” (paragraph 70)
kadang-kadang ibu sampai dikejar bogodan . karena jepang melarang orang membawa beras dari satu kota ke kota lain tanpa izin.( paragraph 2)
2)      Tokoh dan Penokohan
(1)   Tokoh Aku (anak tertua)
Tokoh ini begitu berperan dalam cerpen ini. Tokoh aku memiliki beberapa sifat ;
a). Penyayang dan pekerja keras ( terdapat di paragraf ke 45)
“Aku memang tak punya uang. Tapi aku selalu berusaha sedapat-dapatnya agar ongkos ibu yang sekali empat hari itu harus ada”
c). Rela berkorban ( terdapat di paragraf ke 51)
“Aku telah mengakui bahwa uang organisasi telah aku tandaskan. Tapi tak kukatakan bahwa uang itu aku habiskan untuk membayar obat ibuku yang sakit”
d). Tabah dan tawakal (terdapat di paragraph ke 47 dan 78)
“kupaksakan diriku untuk berserah diri kepada Tuhan serta meyakinkan diriku sendiri pada ucapan yang aku helahkan kepada ibu bahwa Tuhan telah member hidup, dan Tuhan pula yang akan memberi rezeki”
“aku telah rela kalau ibu meninggalkan kami dalam tempo yang singkat”
(2)   Ibu
Tokoh ini sangat istimewa, banyak dimunculkan, dan menjadi tokoh sentral. Secara jelas tokoh ini digambarkan  mempunyai kepribadian yang tulus dan lembut oleh tokoh aku. Sifat yang di miliki ibu yaitu :
a). Penyabar, penyayang, pekerja keras  (terdapat di paragraf pertama)
 “Ibu tiada mengeluh sedikit pun jika kelaparan merangkaki hidup kami. Karena ibu tak membiarkan anak-anaknya lapar”
b). Tabah ( terdapat di paragraf ke 18)
“aku jadi bangga punya ibu yang setabah itu”  
(3)   Adik yang tertua
Memiliki sifat :
a). Pengertian ( terdapat di paragraph ke 31)
“Ia mengerti akan kediaman ibu. Dan ia menaksir, sebabnya air susu ibu kering karena perut ibu lapar”
b). Rela berkorban (terdapat di paragraf ke 36)
“Adikku tertua membawa sekarung beras”……..”Ibu cemas karena ibu tahu gaji adikku tertua tak sampai sejumlah harga seperempat karung beras sebulannya”

(4)   Adik yang ke empat
Karakternya Cengeng (terdapat di paragraf ke 25)
“Keduanya memeluk ibu sambil menangis seperti anak perempuan kecil mengadukan halnya”

(5)   Adik yang kelima
Karakternya sama dengan tokoh adik ke empat yaitu Cengeng (terdapat di paragraf ke 25)
“Keduanya memeluk ibu sambil menangis seperti anak perempuan kecil mengadukan halnya”

(6)   Adik perempuan
Karakter sifatnya ialah :
a). Penghibur (terdapat di paragraf  ke 65)
      “kami ingin melihat Abang diurus orang”
b). Cengeng (terdapat di paragraf ke 78)
“semua adikku telah merah dan sembab matanya, terutama yang perempuan”

(7)   Adik yang terkecil
Memiliki sifat lugu (terdapat di paragraf ke 16 dan 17)
“Bang, kalau Abang sudah jadi dokter, suntik cirit ibu, ya?”…..”Rupanya adikku pernah melihat dokter menyuntik pantat ibu. Tapi dalam sangkanya, cirit ibulah yang disuntik”.

(8)   Dokter rumah sakit
Memiliki sifat angkuh dan serakah (terdapat di paragraph ke 81).
Aku benci kepada dokter. Benci oleh keangkuhannya dan keserakahannya kepada uang”.

(9)   Dokter bedah
Memiliki sifat yg bijaksana (terdapat di paragraf ke 85)
“Ia datang laksana betul-betul hendak menyembuhkan ibu”…..laksana pendeta yang memberikan khotbah, ia berbicara kepada seisi rumah”.

3)      Gaya bahasa
Gaya bahasa yang terdapat dalam cerpen ini antara lain.
a.      Hiperbola
Ratap tangis diatas rumah telah berderai demikian kerasnya.
b.      Personifikasi
Selamanya ibu menjaga api kegembiraan dalam tungku hidup kami (paragraf ke1).
c.       Sarkasme
Aku benci kepada dokter. Benci oleh keangkuhannya dan keserakahannya kepada uang.

4)      Alur
a)      Pengenalan
Peristiwa yang mengenalkan tokoh-tokoh dan sifat nya berada pada paragraf 1, 16, 25, 31, 33, 40.
b)      Konflik
Konflik terjadi ketika ibunya mulai sakit.
“ …rupanya akhir hidupnya dimulai dengan sakit seperti itu. Kami semuanya jadi sedih, jadi cemas”. (pargraf ke-4)
c)      Komplikasi
Komplikasi terjadi ketika si Ibu sakitnya tak kunjung sembuh bahkan bertambah parah, “ empat bulan ibu dirawat dirumah sakit, penyakit ibu kian bertambah berat juga” (paragraph 74). Sedangkan si aku tak punya uang lagi untuk membeli obat sang Ibu. Akhirnya Tokoh aku menggelapkan uang organisasi yang mengakibatkan ia tidak dipercayai lagi oleh rekan organisasinya.
Kawan-kawanku telah menggugtku dalam suatu rapat yang sengaja diadakan untuk uang itu.(paragraph 81)
d)     Klimaks
Tahap ini terjadi ketika sang ibu mengalami masa paling krisis selama menderita sakit dan sang ibu meninggal. “ akhirnya, masa krisis ibu sampai dipuncaknya. Semua orang sudah kehilangan akal. Sanak keluarga telah ramai berdatangan dari berbagai kota dan kampung”(paragraph 78)
dan kini ibu telah mendekati ajalnya. Aku tak percaya bahwa dokter akan sanggup mengobatinya lagi. (paragraph 83)
e)      leraian
pada tahap ini peristiwa-peristiwa yang terjadi menunjukan perkembangan kearah selesaian.
“…pada malamnya sesudah ibu dikuburkan, ketika sanak keluarga dan teman-teman akrab masih beramai-ramai menghibur hati kami yang duka….”
f)       Selasaian
Adalah tahap akhir suatu cerita. Cerita ini berakhir ketika tokoh aku menikah.
“tapi bertahun-tahun kemudian. Aku kembali menangis ketika malam pertama aku tidur di kamar istriku, karena terkenang bahwa cita-cita ibu baru terlaksana setelah lama ibu meninggal” (paragraph ke-72)

Dalam cerpen ini menggunakan alur campuran karena rangkaian Peristiwa/urutannya terkadang menceritakan masa mendatang (maju) dan terkadang menceritakan masa lampau (mundur).

5)      Amanat
Amanat yang terkandung dalam cerpen ini ialah:
a)      Jadi lah anak yang berbakti kepada orang tua seperti yang dilakukan oleh tokoh aku dan saudaranya.
b)      Jika menjadi orang tua contoh lah seperti tokoh ibu, yang selalu menyayangi, melindungi, selalu berkorban, sabar, tabah, dan bekerja keras demi kebahagian anaknya.
c)      Jangan mencontoh watak dari tokoh dokter rumah sakit yang tidak mau membantu sesama dan selalu mementingkan keuntungan saja jika menolong orang lain. Contohlah watak dari tokoh dokter bedah yang rela berkorban serta bijaksana dalam menyikapi masalah orang lain.
d)     Jangan berbuat seperti tokoh aku yang tidak dapat mengambil keputusan yang tepat untuk menyelesaikan masalahnya, pada saat ibunya sakit dan ia hendak membelikan ibunya obat namun ia mengambil langkah dengan menggelapkan uang organisasi yang membuat orang lain tidak percaya lagi dan menjahui dirinya.

6)      Tema
Tema atau pokok persoalan cerpen “Ibu” adalah kisah tentang perjalanan hidup seorang ibu dan anak-anaknya dengan pengorbanan, kegigihan, kesabaran. Seorang Ibu yang membesarkan dan mendidik anak-anaknya hingga dewasa dan berumah tangga dan anak- anak yang bekerja keras untuk membiayai perawatan ibunya yang sakit.
  Seperti yang tergambar pada cuplikan cerpen di bawah ini.
Selamanya ibu berusaha agar kami tetap hidup sekumpul. Juga selamanya ibu menjaga api kegembiraan dalam tungku hidup kami. (paragraf ke- 1, baris ke- 3-4)
…. Ibu tiada mengeluh sedikitpun jika kelaparan merangkai hidup kami. Karena ibu tidak membiarkan anak-anaknya lapar. (paragraf ke- 1, baris ke- 7-9).
3.1.2         Nilai-nilai Pendidikan yang terkandung dalam cerpen ini.
1)      Nilai moral
Paragraph ke-52
Tapi aku jadi sangat malu kepada mereka. Aku yang telah mereka percayai bertahun lamanya, kini telah menjatuhkan harga diriku dengan menggelapkan uang yang hanya enam ratus rupiah itu.”
Penggalan paragraf ini mengajarkan kepada kita agar dalam setiap langkah dalam hidup kita mengutamakan kejujuran.

2)      Nilai-nilai kepribadian
Paragraf ke- 1
Selamanya ibu berusaha agar kami tetap hidup sekumpul. Juga selamanya ibu menjaga api kegembiraan dalam tungku hidup kami. Hingga kami selamanya merasakan bahwa surga adalah dikaki ibu ( baris ke- 3-5)
3)      Nilai-nilai tanggung jawab
Peragaraf ke-5 
…. Ibu tiada mengeluh sedikitpun jika kelaparan merangkai hidup kami. Karena ibu tidak membiarkan anak-anaknya lapar. (baris ke- 7-8).
4)      Nilai-nilai keagamaan (religi)
 “kupaksakan diriku untuk berserah diri kepada Tuhan serta meyakinkan diriku sendiri pada ucapan yang aku helahkan kepada ibu bahwa Tuhan telah memberi hidup, dan Tuhan pula yang akan memberi rezeki”(paragraph ke 47)
Penggalan paragraf ini mengajarkan kita agar berserah diri kepada Tuhan dan mempercayai akan adanya pertolongan Tuhan.
3.2      Tahap Penafsiran
Tahap penafsiran dapat diartikan sebagai memperjelas/memperjernih maksud karya sastra dengan cara:
 (a) memusatkan interpretasi kepada ambiguitas, kias, atau kegelapan dalam karya sastra,
 (b) memperjelas makna karya sastra dengan jalan menjelaskan unsur-unsur dan jenis karya sastra.
Seorang kritikus yang baik tidak lantas terpukau terhadap apa yang sedang dinikmati atau dihayatinya, tetapi dengan kemampuan rasionalnya seorang kritikus harus mampu membuat penafsiran-penfsiran sehingga karya sastra itu datang secara utuh.
Jan Van Luxmburk dkk. dalam Pengkajian Sastra (2005: 58-59) membedakan enam jenis pokok penafsiran sebagaimana berikut:
1.      penafsiran yang bertitik tolak dari pendapat bahwa teks sudah jelas.
2.      penafsiran yang berusaha  untuk meyusun kembali arti historik.
3.      penafsiran heurmenetik, yaitu keahlian mnginterpretasi karya sastra yang berusaha memperpadukan masa lalu dan masa kini.
4.      tafsiran-tafsiran dengan sadar disusun dengan bertitik tolak pada pandangannya  sendiri mengenai sastra
5.      tafsiran-tafsiran yang bertitik pangkal pada sutu problematik  tertentu, misalnya permasalahan psikologi atau sosiologi.
      
                  Dalam hal ini kami menggunakan pendapat Jan Van Luxmburk dkk yang pertama, yaitu penafsiran yang bertitik tolak dari pendapat bahwa teks sudah jelas. Menurut kami semua kata-kata dan kalimat dalam cerpen ini tidak ada yang sulit dipahami atau bersifat ambigu.

3.3      Tahap Penilaian
Penilaian merupakan tahap akhir suatu kritik sastra. Dalam suatu penilaian dapat dilakukan melalui pujian, seperti berbobot, baik, buruk, menarik, dan unik. Sebaliknya, dapat pula dilakukan pencemohan, ejekan, dianggap jelek dan tidak bermutu, serta tidak menyentuh nilai-nilai kemanusiaan. Jadi kritik sastra mencapai kesempurnaan setelah diadakan evaluasi atau penilaian.
3.1  Kelebihan
Cerpen yang berjudul “Ibu” ini, dapat menggugah perasaan pembaca seolah-olah ikut merasakan penderitaan keluarga si aku. Teknik penceritaannya menarik minat pembaca untuk membaca keseluruhan isi cerpen. Isi cerpen ini juga mendidik khususnya untuk remaja yang sulit untuk menghargai pengorbanan orang tua. Cerpen ini mengingatkan kembali kepada kita bahwa orang tua terutama ibu akan senantiasa berkorban dan berjuang untuk masa depan dan kebahagiaan anak-anaknya. Seperti yang tergambar dalam penggalan paragraph berikut:
Selamanya ibu berusaha agar kami tetap hidup sekumpul. Juga selamanya ibu menjaga api kegembiraan dalam tungku hidup kami. Hingga kami selamanya merasakan bahwa surga adalah dikaki ibu (paragraph ke-1 baris ke- 3-5)
…. Ibu tiada mengeluh sedikitpun jika kelaparan merangkai hidup kami. Karena ibu tidak membiarkan anak-anaknya lapar. (Peragaraf ke-5 baris ke- 7-8).
Selain tokoh ibu yang bisa kita jadikan pelajaran berharga, kita juga akan mendapatkan pelajaran berharga dari tokoh-tokoh lain yang bisa kita jadikan panutan. Tokoh aku dan saudara-saudaranya yang berusaha dan bekerja keras dalam membiayai pengobatan ibunya yang sakit.
Teknik penceritaan dalam cerpen ini juga menarik, dikatakan menarik kerena A.A Navis membuat cerpen “ibu” ini menggunakan alur campuran. Alur campuran biasanya hanya bisa dijumpai dalam novel dan dalam cerpen kumpulan A.A Navis hanya cerpen ibu saja yang menggunakan alur campuran. Jadi cerpen ini menurut kami mempunyai kesitimewaan tersendiri dari cerpen-cerpen karya A.A Navis yang lainnya.  
Selanjutnya, berdasarkan hasil analisis yang kami lakukan, kami banyak menemukan nilai-nilai yang bisa dijadikan teladan. Nilai-nilai yang kami temukan dalam cerpen ini diantaranya, nilai-nilai pendidikan, nilai-nilai kepribadian, nilai-nilai tanggung jawab dan nilai-nilai religi.
3.2  Kekurangan

Kekurangan cerpen ini terletak pada pemeranan tokoh yang masih membingungkan. Dalam cerpen diceritakan bahwa tokoh aku mempunyai sepuluh saudara tetapi yang tergambar hanya beberapa saudara saja. Selain itu, tokoh ayah tidak tergambar sama sekali dalam cerita jadi seolah-olah dalam cerpen ini sang ibu tidak mempunyai suami.








BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Cerpen “ibu” karya AA. Navis ini memang sebuah sastra (cerpen) yang menarik dan baik. Hal ini dapat dilihat dari unsur-unsur intrinsik dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
 Adapun hasil analisisnya sebagai berikut.
1. Unsur-unsur Intrinsik
a. Tema
Tema atau pokok persoalan cerpen “Ibu” adalah kisah tentang perjalanan hidup sebuah keluarga dengan pengorbanan, kegigihan, kesabaran. Seorang Ibu yang membesarkan dan mendidik anak-anaknya hingga dewasa dan berumah tangga dan anak- anak yang bekerja keras untuk membiayai perawatan ibunya yang sakit.
b. Amanat
a)      Jadi lah anak yang berbakti kepada orang tua seperti yang dilakukan oleh tokoh aku dan saudaranya.
b)      Jika menjadi orang tua contoh lah seperti tokoh ibu, yang selalu menyayangi, melindungi, selalu berkorban, sabar, tabah, dan bekerja keras demi kebahagian anaknya.
c)      Jangan mencontoh watak dari tokoh dokter rumah sakit yang tidak mau membantu sesama dan selalu mementingkan keuntungan saja jika menolong orang lain. Contohlah watak dari tokoh dokter bedah yang rela berkorban serta bijaksana dalam menyikapi masalah orang lain.
d)     Jangan berbuat seperti tokoh aku yang tidak dapat mengambil keputusan yang tepat untuk menyelesaikan masalahnya, pada saat ibunya sakit dan ia hendak membelikan ibunya obat namun ia mengambil langkah dengan menggelapkan uang organisasi yang membuat orang lain tidak percaya lagi dan menjahui dirinya.
c. Latar
Latar yang ada dalam cerpen ini adalah latar tempat, latar waktu, dan latar sosial.
d. Alur
Alur cerpen ini adalah alur campuran karena rangkaian Peristiwa/urutannya terkadang menceritakan masa mendatang(maju) dan terkadang menceritakan masa lampau (mundur)
e. Penokohan
Tokoh dalam cerpen ini ada 9 orang, yaitu tokoh Aku, Ibu, Adik tertua, Adik perempuan, adik ke empat, adik kelima, adik terkecil, Dokter Rumah Sakit dan Dokter bedah.
2.      Nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen ini.
1)      Nilai moral
2)      Nilai tanggung jawab
3)      Nilai kepribadian
4)      Nilai keagamaan (religi)

3.      Penilaian
Dalam cerpen ini terdapat kelebihan dan kekurangan yang telah penulis paparkan dalam BAB III. Namun secara umum, berdasarkan analisis dan penafsiran yang kami lakukan cerpen ini termasuk cerpen yang baik dan menarik sehingga pembaca akan mendapatkan kenikmatan dalam membacanya dan mendapatkan pengajaran moral yang lebih tinggi.

Landasan yang kami gunakan dalam menentukan bahwa cerpen ini baik didasarkan pada pendapat Plato, bahwa ada tiga unsur dalam karya sastra yang baik, Pertama memberi ajaran moral lebih tinggi, kedua member kenikmatan, dan yang ketiga ketapatan dalam wujud ketepatan.



DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
http://adiel87.blogspot.com/search/label/teori%20sastra
Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: PT. Grasindo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar